Tumbuh Kembang Tumbuh KembangTopik harian dengan konteks dan sudut pandang yang jelas.
parenting

Tumbuh Kembang Modern: Saat Layar Ikut Mengasuh Anak

Tumbuh kembang modern tak lepas dari layar. Catatan ibu bekerja di Cikarang Pusat soal batas screen time, tantrum, dan MPASI.

23 Aug 2026 · 4 menit baca · oleh Septi Wardhana
Tumbuh Kembang Modern: Saat Layar Ikut Mengasuh Anak

Anak saya umur tiga tahun dan sudah bisa membuka YouTube sendiri sebelum saya sempat menyalakan kompor. Pagi itu saya sedang mengejar waktu berangkat kerja, dan layar jadi pengasuh pengganti selama dua puluh menit. Bukan momen bangga. Tapi itu nyata, dan saya rasa banyak ibu bekerja di Cikarang Pusat merasakan hal yang sama.

Tumbuh kembang modern tidak lagi soal mile stone di buku KIA saja. Layar masuk ke kamar, ke meja makan, ke mobil. Pertanyaannya bukan lagi "boleh atau tidak", tapi "seberapa sering dan untuk apa".

Anak balita menatap layar tablet di ruang keluarga

Layar bukan musuh, tapi juga bukan pengasuh

Saya sempat ikut grup yang isinya perang pendapat soal screen time. Ada yang bilang nol menit sampai umur lima tahun, ada yang santai saja. Keduanya bikin saya bingung.

Yang akhirnya saya pegang: layar dipakai sebagai alat, bukan rutinitas. Kalau saya butuh fokus satu jam untuk kerja yang tidak bisa ditunda, saya izinkan anak menonton. Setelah itu saya matikan. Yang saya hindari adalah membiarkan layar menyala sepanjang hari cuma karena anak rewel.

Panduan IDAI menyarankan anak di bawah dua tahun sebaiknya tidak diberi tontonan, dan usia 2–5 tahun dibatasi sekitar satu jam per hari dengan pendampingan. Saya tidak selalu berhasil mematuhi angka itu. Tapi arahnya jelas, dan arah lebih mudah dipegang daripada patokan kaku yang bikin stres.

Satu hal yang saya sadari: anak meniru cara saya memakai ponsel. Kalau saya pegang HP sambil menyuapi, dia belajar bahwa makan sambil menatap layar itu normal. Jadi yang saya ubah duluan adalah kebiasaan saya sendiri Detail teknisnya saya rapikan di tumbuh kembang .

Tantrum dan batas yang tidak bisa dinegosiasi

Tantrum di usia balita itu bukan tanda anak nakal. Itu cara dia bilang belum bisa mengelola keinginan. Saya dulu panik tiap anak menangis kencang di minimarket karena minta jajan. Sekarang saya coba tetap tenang, jongkok, dan bilang singkat: "Hari ini tidak beli. Kita pulang."

Tidak selalu berhasil. Kadang saya ikut kesal. Tapi anak belajar bahwa ada batas yang tidak berubah hanya karena dia menangis. Yang penting, saya tidak menyerah di tengah jalan lalu membeli jajan supaya dia diam, karena itu mengajarkan tantrum sebagai cara ampuh.

Tantrum juga sering muncul saat anak lelah atau lapar. Saya coba jadwalkan belanja setelah dia makan dan tidur siang, meskipun tidak selalu pas Latar belakangnya ada di tumbuh kembang hemat .

MPASI rumah, MPASI pabrik, dan rasa bersalah ibu bekerja

Saya mulai MPASI saat anak umur enam bulan, dan tidak semua hari berjalan mulus. Ada masa dia hanya mau makan bubur yang saya masak sendiri, ada masa dia menolak semua tekstur. Saya pernah menghabiskan satu jam membuat puree labu, dan dia menutup mulut rapat.

Menurut saya yang paling melegakan adalah berhenti membandingkan dengan foto MPASI estetik di media sosial. Anak saya makan nasi lembek dan telur, itu sudah cukup. Yang penting gizinya seimbang dan dia tumbuh sesuai kurva.

Untuk ibu bekerja, MPASI pabrik bukan dosa. Saya pakai bubur fortifikasi di hari-hari yang terlalu padat, dan tetap masak di akhir pekan. Yang saya jaga adalah responsif saat menyuapi: berhenti kalau anak sudah menoleh, jangan memaksa suap terakhir.

Ibu menyiapkan MPASI di dapur pagi hari

Sekolah TK dan pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan

Anak saya baru masuk TK tahun ini. Waktu memilih sekolah, saya sempat tergoda membandingkan fasilitas dengan tetangga. Ada yang sudah bisa membaca di usia empat tahun, ada yang belum.

Saya ingat pesan di laman IDAI bahwa setiap anak punya laju tumbuh kembang berbeda, dan stimulasi yang tepat lebih penting dari perlombaan capaian. Jadi saya pilih sekolah yang jaraknya dekat rumah, gurunya ramah, dan tidak menuntut calistung di usia dini. Sisanya saya serahkan pada waktu.

Kalau ada yang bertanya "kok anaknya belum bisa baca?", saya jawab saja: "Masih tahap bermain, Bu." Tidak perlu berdebat.

Tumbuh kembang modern membuat kita punya akses ke begitu banyak informasi sekaligus, dan itu melelahkan. Saya memilih menyaring: pegang panduan resmi, dengar pengalaman orangtua lain, lalu sesuaikan dengan anak saya sendiri. Tidak ada yang sempurna. Yang ada hanya ibu yang mencoba, setiap hari, sambil berangkat kerja pagi-pagi dari Cikarang Pusat.

Lihat juga: Tumbuh kembang lokal

Bahan bacaan: sumber resmi

Tag: #tumbuh kembang #screen time #balita #ibu bekerja